SELAMAT DATANG DI WEBSITE UNSWAGATI
Universitas Swadaya Gunung Jati - Kampus 1 : Jl. Pemuda No.32 Telp. (0231) 206558 Fax. (0231) 236742 Cirebon 45132, Kampus 2 : Jl. Perjuangan No. 1 Telp. (0231) 482115, 487249 Cirebon 45132, Kampus 3 : Jl. Terusan Pemuda No. 1A Cirebon 45132

Jurnal

  • MENATA RUANG HATI MENATA RUANG HATI                                                                                                ...
  • MENGGAGAS PENDIDIKAN MASA DEPAN ABDUL ROZAK GURU BESAR UNSWAGATI CIREBON 1. PENDAHULUAN Apa yang terbayang bila...
  • ALIH STATUS UNSWAGATI MENJADI PTN Abdul Rozak Guru Besar Unswagati Cirebon Bagaimana membangun bangsa dengan benar? Jawaban itu...
  • PENDIDIKAN BERBASIS SASTRA Teks sastra membentangkan wilayah pembelajaran yang kaya. Pembaca dapat mempelajari seluruh isi yang...
Share

Teks sastra membentangkan wilayah pembelajaran yang kaya. Pembaca dapat mempelajari seluruh isi yang ditata dalam rangkaian peristiwa. Laskar Pelangi telah membuktikan bahwa pembelajaran dapat dilakukan dengan indah dan sederhana. tata cara sederhan terbukti dapat menghasilkan dampak dahsyat. Bu Muslimah telah memberikan pembelajaran kepada kita semua bahwa proses pembelajaraan penuh makna dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Kekurangan ternyata dapat memberikan kesempatan untuk menaarialternatif. Sekolah adalah sekolah. Ia harus menghasilkan apa yang seharusnya dan apa yang dapat diungkapkan dari apa yang ada, artinya mengadakan aktivitas yang terpikirkan dapat terjadi. Teks sastra Lasykar Pelangi memberikan inspirasi kepada kita bahwa sastra dapat menghaluskan perilaku halus, guru dapat menjadikan teks sastra sebagai salah satu sumber belajar yang kaya.


 

PENDIDIKAN BERBASIS SASTRA

 

(TELAAH KETOKOHAN DALAM LASKAR PELANGI)

Abdul Rozak

 

 

Guru Besar pada FKIP Unswagati Cirebon

Abstrak

Teks sastra membentangkan wilayah pembelajaran yang kaya. Pembaca dapat mempelajari seluruh isi yang ditata dalam rangkaian peristiwa. Laskar Pelangi telah membuktikan bahwa pembelajaran dapat dilakukan dengan indah dan sederhana. tata cara sederhan terbukti dapat menghasilkan dampak dahsyat. Bu Muslimah telah memberikan pembelajaran kepada kita semua bahwa proses pembelajaraan penuh makna dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Kekurangan ternyata dapat memberikan kesempatan untuk menaarialternatif. Sekolah adalah sekolah. Ia harus menghasilkan apa yang seharusnya dan apa yang dapat diungkapkan dari apa yang ada, artinya mengadakan aktivitas yang terpikirkan dapat terjadi. Teks sastra Lasykar Pelangi memberikan inspirasi kepada kita bahwa sastra dapat menghaluskan perilaku halus, guru dapat menjadikan teks sastra sebagai salah satu sumber belajar yang kaya.

Kata kunci; teks sastra, teks belajar, pendidikan, pembelajaran, ketokohan dalam sastra

PENDAHULUAN

Beberapa peristiwa saat ini mengganggu ketenteraman lahir dan batin kita. Berhari-hari kita disuguhi berita kekerasan yang diperlihatkan oleh orang-orang yang seharusnya tidak perlu melakukannya. Perkelahian antaranak sekolah yang berjenis kelamin perempuan. Guru melakukan kekerasan kepada para muridnya hanya gara-gara menjatuhkan pot bunga. Ada juga guru yang sangaja memberikan sarung tinju kepada murid (perempuan lagi) untuk menyelesaikan masalahnya. Melalui berita kita diberi tahu bahwa ada anak yang mencelakakan bapaknya gara-gara tidak diberi uang jajan. Pada saat santai keluarga kita disuguhi tayangan sinetron yang menggambarkan adegan taatnya orang tua kepada anak-anaknya juga bagaimana anak memarahi orang tuanya dengan mata terbelalak dan kata-kata tidak sopan. Informasi tentang keretakan serta perselisihan di antara pesohor diluaskan melalui televisi dan kita menikmatinya sambil minum kopi.

Begitu banyak peristiwa yang seharusnya tidak terjadi dan seharusnya tidak diluas-sebarkan kepada khalayak. Kita tidak lagi dipilihkan media masa. Perselisihan hasil pilkada, unjuk rasa lumpur lapindo, saling serang antara satpol pp dan pedagang kaki lima ditayangkan dengan gamblang. Pilihan memang ada pada kita. Pilihan tentu saja harus punya dasar. Memberikan bekal kepada masyarakat tentang tata cara memilih menurut saya lebih baik dan bersifat mendesak dilakukan pada saat ini. Semua yang berada di sekitar kita itu fasilitas, alat yang memudahkan untuk melakukan sesuatu. Semuanya tergantung pada kita. Keterpilihan dalam pemanfaatan menjadi kunci menuju hidup bermanfaat.

Apa yang dapat kita lakukan (sebagai pendidik) agar murid-murid kita, agar orang tua murid, agar orang sekitar kita memahami bagaimana merespons berbagai peristiwa yang sebetulnya sangat tidak berguna? Tugas pendidikan yang utama adalah mendidik. Pendidik mempunyai waktu yang cukup ketat dan teratur untuk memompakan semangat memilih bagi para murid. “Ajaran” yang dikomunikasikan melalui jalur mata pelajaran sebenarnya media tepat dalam memastikan pilihan-pilihan bagi para murid. Pendidik berada di kelas berdialog terhadap masa depan. Apa yang kita persepsikan tentang hidup ditawarkan kepada para murid untuk dikaji bukan direkomendasikan. Biarlah para murid yang menentukan pilihan perilaku dengan “momongan” pendidik.

Apakah terdapat hubungan peristiwa di luar dengan apa yang terjadi di kelas? Jawaban yang akurat dapat diperoleh melalui riset. Masyarakat akan menghadapkan masalah ini kepada sekolah, kepada guru. Jadi, kita siapkan resepnya. Sekolah seharusnya menjadi solusi yang dapat berkontribusi kepada kehidupan yang lebih luas. Dalam kesempatan ini saya akan mengajak kita untuk merenungkan, untuk berdialog cara didik dengan memanfaatkan kekayaan kita, yaitu sastra. Sastra kita kaya. Dalam sastra terdapat kekayaan yang belum digali. Dalam sastra ada potensi. Dalam diri kita serta murid juga sangat banyak potensi. Mengapa kita tidak menggabungkan potensi itu untuk tujuan pendidikan kita? Mari kita cermati ada apa dalam sastra dengan menggali novel Laskar Pelangi.

TEKS SASTRA

Teks (karya sastra) menyediakan pengalaman hidup (living through) bukan pengetahuan sederhana (Rosenblatt, 1983 : 38). Bila pembaca membaca Rome and Juliet tidak akan akan memperoleh pengetahuan tentang Rome and Juliet, tetapi ia akan memperoleh pengalaman hidup, pengalaman hidup Rome and Juliet. Pengalaman itu mungkin sama mungkin tidak. Pembaca telah membaca pengalaman hidup para tokoh yang kemungkinan akan mengena dalam kehidupannya sehari-hari. Paling tidak teks itu (Rome and Juliet) telah memberikan tambahan baru terhadap peng-alaman hidupnya. Teks itu sebagai perangsang. Teks itu sebagai media penjelajahan, literature is thus for him a medium of exploration (Rosenblatt, 1983:v).

Dunia teks adalah dunia lain, dunia yang berbeda. Kemungkinan dunia yang tidak dialami pembaca (Smith, 1986: 1). Akan tetapi, pembaca tidak akan merasa terganggu oleh cerita (peristiwa) yang tidak ada dalam dunia nyata. Kebenaran yang ada dalam cerita adalah kebenaran yang hanya ada dalam cerita (Miller, 1992 : 206-207). Karya sastra merupakan dunia yang otonom yang tidak terikat pada dunia nyata dan tidak menunjuk pada dunia nyata, kecuali melalui makna unsur yang ditunjuk di dalamnya. Karya sastra memang dunia rekaan yang selfsufficient, cukup diri, otonom, mematuhi hukumnya sendiri. Hukum itu tidak perlu bahkan tidak mungkin bersamaan dengan hukum alam, atau hukum probabilitas, atau hukum tata susila, atau hukum agama (Teeuw, 1983 : 12 – 34).

Teks menurut Rosenblatt (1978:13)” The Text of poem or of a novel or a drama is like a musical score.” Lebih jauh Rosenblatt (1978) mengatakan bahwa teks akan mengarahkan pembaca melalui proses perbaikan diri. “The text itself leads the reader toward this self-corrective process.” Dia mengatakan ada dua fungsi utama teks.

“First, the text is a stimulus activating elements of reader’s past experience—his experience both with literature and with life. Second, the text serves as a blueprint, a guide for the selecting, rejecting, and ordering of what is being called forth; the text regulates what shall be held in the fore front of the reader’s attention.” (hlm. 11).

Teks tampak sebagai peristiwa hidup pembaca.

The importance of the text is not denied by recognition of its openness. The text is the author’s means of directing the attention the reader […] The reader, concentrating his attention on the world he [the author] has evoked, feels himself freed for time from his own preoccupations and limitations. Aware that the blueprint of his experience is the author’s text, the reader feels himself in communication with another mind, another world (hlm. 86).

Teks diciptakan penulis berdasarkan pengalaman hidupnya, berdasarkan rekaannya. Penulis bermaksud menyampaikan pengalamannya kepada pembaca. Dalam teks itu tersedia pengalaman hidup dengan harapan pembaca dapat menemukan pelajaran, dapat menemukan sesuatu yang dapat dipelajari. Teks itu berusaha menyediakan ragam kultur yang berbeda. Di samping itu, sastra sebagai karya seni dapat juga mengisi batin pembaca, for plesure (Purves, 1990) dengan cara demikian karya sastra akan diperhatikan orang (pembaca). Rosenblatt (1978) berharap agar teks berfungsi meluas.

Perhaps we should consider the text as an even more general medium of communication among readers. As we exchange experiences, we point to those elements of the text that best illustrate or support our interpretations. We may help one another to attend to words, phrases, images, scenes, that we have overlooked or slighted. We may be led to our own sense of having “done justice to” the text, without denying its potentialities for other interpretations. Sometimes the give-and-take may lead to general increase in insight and even to a consensus. (hlm 146)

Kenetralan teks memberikan peluang untuk ditelaah dari berbagai segi. (masukkan pendekatan teks, struktural, psikoanalisis, memetik, dan sebagainya). Ratna (2004) mencatat beberapa pendekatan terhadap teks, yaitu pendekatan biografis, pendekatan sosiologis, pendekatan psikologis, pendekatan antropologis, pendekatan historis, pendekatan ekpresif, pendekatan memisis, pendekatan pragmatis, dan pendekatan objektif.

TEKS BELAJAR MENGAJAR

Apa yang dimaksud dengan belajar? Inti belajar itu sebenarnya terciptanya perubahan pada diri pembelajar. Apa pun perubahan itu. Perubahan yang diskenariokan pengajar dengan penuh perhitungan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Apa yang seharusnya berubah pada diri pembelajar? Perubahan pada intinya adalah menyiapkan bagaimana para murid pada saat diperlukan mampu menyikapi seluruh unsur yang berpenagruh terhadap jalan hidupnya pada masa yang akan datang.

Persiapan hidup pada masa yang akan datang tanggung jawab semua. Orang tua merupakan pihak yang merasa ditanggungjawabi oleh dirinya sendiri, oleh kehidupan yang melingkunginya, oleh aturan masyarakat yang mengikatnya, oleh tantangannya sendiri yang bersifat turun-temurun. Pihak kedua adalah masyarakat yang abstrak. Dia ada tetapi hanya dalam rabaan, tidak nyata. Tantangan selalu bertambah kompleks dan mengharuskan pembukaan semua kemampuan yang tersimpan bahkan menuntut sesuatu yang baru bahkan seseuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Hidup memang selalu membutuhkan seharusnya atau sebaiknya. Pertanyaan diajukan kepada semua orang dan akan terlahir jawaban bahwa kehidupan menapak sebagaimana keinginan yang terselip pada awalnya. Pemunculan keinginan didorong oleh berbagai peristiwa yang muncul di sekitar atau bahkan di luar jangkauan fisik, tetapi selalu mudah untuk diperoleh. Apa yang kita ingin dengan mudah dan seketika dapat dimunculkan. Ketak-ketik atau pajat-pijit remot semuanya sudah tersaji di depan kita.

Kita dinikmatkan dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dan kita jadi terlupakan untuk mencoba menjelajah kemampuan diri. Keterlenaan dalam berbagi cara merupakan musuh yang harus dilawan dan dimusnahkan. Kasyikan dalam menikmati kemudahan bukan menjadi jaminan memudahkan dalam menjalankan hidup. Raihan harian dalam menata jalan hidup menuju tujuan bisa saja menjadi hambatan yang tidak terpikirkan awalnya akan demikian. Ternyata ramalan yang diskenariokan bisa beralih pada jalan lain, sepertinya bukan jalan kita. Akan tetapi, semuanya harus dijalani dengan kesesukaan atau keterpaksaan. Hidup harus berjalan sebelum sampai pada batas yang ditentukan Allah.

Dorongan aktivitas harus digerakkan dengan berbagai cara-usaha. Apa yang ada dalam diri kita masing-masing sia-sia tanpa didorong untuk keluar mencari tepinya masing-masing. Semua diciptakan Allah berpasang-pasangan. Apa yang dalam diri manusia selalu dipasangkan dengan tepat, tidak pernah salah, kecuali kita memaksa tidak memohon jalan kepada-Nya. Pergerakan langkah manusia yang beragam disimpulkan menuju arah yang sebenarnya telah tertentu. Ketentuan itu tetap harus dicari karena kita tidak diberi kepastian sebelum terjadi. Inilah ikhtiar.

Hidup nyata ada dalam teks yang terbentang dalam alur alam, sunnatullah. Beragam peristiwa alam telah memberikan inspirasi kepada orang yang berpikir, berzikir dan bernuansa cinta dalam gerak kehidupannya. Keterbukaan alam mesti disikapi dengan sikap. Kerugianlah yang dapat kita peroleh jika pikir dan rasa tidak dapat mengimbangi alur alam yang telah dicipta Allah dengan sangat sempurna. Semua fasilitas yang terbentang di alam ini disiapkan Allah untuk manusia yang dapat menggunakan akal pikirnya secara benar.

Apa yang dapat kita pelajari tidak dapat hanya dengan menatap. Alam yang luas ini harus dirangkai dalam bentuk periode dan sejatinya tidak akan pernah selesai dipelajari. Seruang bahwa manusia harus selalu menjadi pembelajar karena sudah disiapkan Allah segala kebutuhannya. Apakah kita dapat menyikiapi seruang itu dengan baik atau tidak. Semuanya berbalik kepada manusia, kepada kita.

Tugas utama kita, para pendidik adalah membentangkan segala hal yang kita ketahui tentang dorongan yang mampu menjelmakan suannatullah ini dalam bentuk sederhana, dalam bentuk yang beroptensi orang lain (para murid) menjadi manusia pembelajar. Jadi, tugas guru yang mahaberat adalah mendidik para murid menjadi manusia pembelajar, bukan menjadi manusia cerdas sesaat. Tugas guru adalah membuka jalan bagi murid untuk meraih cita-citanya dengan cara sendiri. Membukakan peluang dengan ragam kemungkinan menjadi bagian inti dari proses pembelajaran. Apa yang harus direncanakan sekolah adalah menyusun kurikulum yang secara mudah dapat dibaca dan dibuka.

Kurikulum menurut Brophy (tanpa tahun) menjadi dasar perancangan desain pembalajaran yang disusun guru dan aktivitas yang direncanakan di kelas. Kurikulum bukan tujuan, ia sebagai alat untuk menolong murid beraktivitas dalam lingkung pemelajaran. Kurikulum menurut Longsreet & Shane (1993) dimaksudkan sebagai penyiapan anak-anak kita dalam menghadapi berbagai kehidupan dalam kenyataan yang sangat kompleks. Oleh karena itu, apa yang ada dalam kurikulum tidaklah lengkap. Kurikulum berisi pengetahuan, keterampilan yang diprediksi berguna untuk menjalani kehidupan pada masa depan. Apa yang akan terjadi pada masa depan diantisipasi dalam kurikulum.

Kurikulum menjadi bagian penting dalam lingkup pendidikan apa pun. Pengembangan kurikulum perlu ditangani dengan cukup bersungguh-sungguh, menantang, dan koheren dengan kemampuan anak (Berger, 1991). Keseriusan perbincangan kurikulum dalam pendidikan berdata bila dilihat dari ragam pengertian kurikulum yang dikemukakan para ahli.Longsreet & Shane (1993:53) membuat tinjaun menyusun definsi pilihan, “Kurikulum adalah hasil dari interaksi objektif rencana yag dikembangkan untuk pemelajaran sekolah dan latar belakang personalitas, dan kapasitas murid dalam lingkungan transaksional ciptaan guru untuk kepentingan murid seperti halnya untuk implementasi rencana lebih baik. Semua unsur dalam kurikulum disejajarkan untuk menciptakan program yang kohesif untuk penyempurnaan maksud dan tujuan instruksional (Brophy, tanpa tahun).

Kurikulum disiapkan untuk menolong murid agar mereka dapat menjalani kehidupan di dalam sekolah dan di luar sekolah. Oleh karena itu, (Brophy, tanpa tahun) mengingatkan dalam pelaksanaan pembelajaran agar guru menyampaikan informasi baru kepada murid dengan merujuk pada apa yang dikenal murid, apa yang telah diakrabi murid. Bagaimanakah murid dapat mengikuti pembelajaran jika mereka tidak mempunyai dasar. Pembelajaan sebaiknya dimulai dari apa yang telah diketahui murid. Keterhubungan antara informasi baru dan informasi lama menjadi kunci kelancaran pembelajaran.

Kurikulum melingkupi apa yang seharusnya dipelajari para murid dengan bantuan para guru agar sampai pada tujuan yang telah digariskan dengan sengaja atau tidak. Jadi, kurikulum adalah teks yang harus dibaca dan ditafsirkan dengan benar. Teks bersifat netral. Ia sangat bergantung pada para pembacanya. Penerjemahan sebelum penerapan bergantung pada bagaimana dia memahaminya dengan pengetahuan siap. Bahkan seharusnya pengetahuan yang disiapkan.

BELAJAR DARI TEKS

Sastra bagian dari kehidupan yang dicipta penulis melalui saluran yang beragam dan telah melalui tahapan yng cukup rumit. Bagaimana penulis memaparkan gagasannya kepada khalayak dengan cara bertutur pengalaman. Berpengalaman berbeda menjadi ciri khas manusia. Keragaman dalam berpengalaman memaksa kita bermomunikasi. Apa yang dimunculkan dalam gerak narasi oleh pengarang dalam teks memberikan kemungkinan-kemungkinan yang dapat direspons dengan pemaknaan oleh pembaca. Sebuah karya sastra yang bermutu ditandai dengan berpotensi kemungkinan membuka peluang kepada pembaca untuk membuka jalan yang muncul dalam dirinya.

Teks narasi Laskar Pelangi membukakan berbagai peluang kepada pembaca untuk memulai atau melanjutkan atau mengubah apa yang sudah dilakukan pembaca.

Kita akan menelusuri sebuah perjalanan dari seorang guru yang sederhana, bertanggung jawab, berjiwa guru, penuh dengan mimpi, ikhlas berkeinginan khusnul khotimah. Dialah Ibu Muslimah. Pengungkapan perjalanan ini dengan harapan dapat membawa kita semua, sebagai pendidik menemukan bagian yang belum terungkapkan dalam diri kita. Sebuah pemaknaan berjalan dalam bidang apa pun, dalam kegiatan apa pun sesungguhnya dan pada intinya dalam membiarkan apa yang seharusnya muncul dalam diri kita dibukakan kesempatannya untuk membuka. Jadi, ketenangan hati-raga, kemesraan rasa-pikir pada saat beraktivitas (termasuk membaca dan mononton) merupakan bagian inti yang akan menjadi pintu bersatunya unsur luar dan unsur dalam.

Siapakah guru itu? Guru adalah orang yang semestinya dan sudah digariskan untuk menjadi bagian dari perubahan sekecil apa pun. Rasa prihatin yang sungguh bagi guru manakala tidak berkesempatan turut mengubah perilaku murid-muridnya. Apa yang akan dilakukan jika kegiatan mengajar yang merupakan tugas utama guru tidak terjadi karena berbagai hal. Itulah yang ditakutkan Bu Mus pada saat muridnya kurang seorang. Dia gelisah, tetapi tidak pasrah.

Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak jelas beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali menghitung jumlah anak-anak yang duduk di bangku panjang. Ia demikian khawatir sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya. Titik-titik keringat yang bertimbulan di seputar hidungnya menghapus bedak tepung beras yang dikenakannya, membuat wajahnya coreng moreng seperti pemeran emban bagi permaisuri dalam Dul Muluk, sandiwara kuno kampung kami. (halaman 2)

Apa yang dikhawatirkannya? Dia tidak dapat menghilangkan jiwa mengabdi didiknya. Apa yang dapat dia lakukan untuk membangun masa depan bangsa tanpa kegiatan mendidiknya. Rasa kuat mempertahankan keinginan memunculkan rasa bahwa kegiatan pendidikan di sekolah ini akan berjalan bercampur rasa khawatir.

Bu Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya ke jalan raya di seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru. Kami prihatin melihat harapan hampa itu. Maka tidak seperti suasana di SD lain yang penuh kegembiraan ketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak Harfan. (halaman 4)

Suasana yang terbangun di antara khawatiran dan keinginan memaksa mereka menanti. Tidak ada yang dapat dilakukan selain menunggu di antara dua kemungkinan; berhenti atau jalan. Tidak ada murid (yang dibutuhkan satu orang) berarti pengabdian terhenti. Harapan menjadi guru, harapan orang tua miskin menyekolahkan anaknya lenyap. Manusia hanya dapat berharap, Allah jua yang memberi putusan. Inilah putusannya.

IBU Muslimah yang beberapa menit lalu sembap, gelisah, dan coreng-moreng kini menjelma menjadi sekuntum Crinum giganteum. Sebab tiba-tiba ia mekar sumringah dan posturnya yang jangkung persis tangkai bunga itu. Kerudungnya juga berwarna bunga crinum demikian pula bau bajunya, persis crinum yang mirip bau vanili. Sekarang dengan ceria beliau mengatur tempat duduk kami. Bu Mus mendekati setiap orang tua murid di bangku panjang tadi, berdialog sebentar dengan ramah, dan mengabsen kami. (halaman 9)

Inilah wajah guru yang sesungguhnya. Kecerian di kelas. Kebahagian berkumpul dengan anak-anak. Betapa pun keadaan anak-anaknya. Merekalah anak-anak yang membutuhkan segala yang diperlukan untuk menghadapi masa depan, masa depan yang kurang akrab. Guru harus mengetahui semua itu. Anak-anak mempunyai harapan. Orang tua mempunyai harapan. Guru juga mempunyai harapan. Bangsa dan negara yang mendasain harapan itu melalui kurikulum dan guru harus dapat menerjemahkan kepentingan umum (baca besar) itu kepada inpidu. Anak-anak ada di sekolah bukan membawa amanat bangsa, masyarakat, atau orang tuanya. Mereka masing-masing membawa amanat dirinya sendiri, keingiannya sendiri. Gurulah yang ditanggungjawabi menerjadikan keinginan anak-anak itu. Memang berat tanggung jawab guru yang bertengger dalam hati dan pikirnya jiwa mendidik.

Marilah kita lihat apa yang dilakukan Bu Mus pada murid-muridnya.

UMUMNYA Bu Mus mengelompokkan tempat duduk kami berdasarkan kemiripan. Aku dan Lintang sebangku karena kami sama-sama berambut ikal. Trapani duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan. Penampilan mereka seperti para pelantun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman. Trapani tak tertarik dengan kelas, ia mencuri-curi pandang ke jendela, melirik kepala ibunya yang muncul sekali-sekali di antara kepala orang tua lainnya.(13)

Mengapa mengelompokkannya harus seperti itu? Bu Mus bukan guru lulusan sekolah guru. Dia lulusan SKP. Mana ada di SKP dibekali tata cara mengajar ; pengelolaan kelas, misalnya. Dia merancang sendiri apa yang harus dilakukannya pada saat mengajar. Di benaknya hanya ada satu keinginan, yakni memberikan kemudahan kepada anak-anaknya untuk beraktivitas dan mengenal dengan mudah dalam waktu yang tidak terlalu lama. Langkah awal guru adalah berusaha akrab dengan mengenal namanya. Nama adalah jalur menuju pengenalan bagian-bagian lainnya dalam keseluruhan tubuh mereka.

Mengenal dalam pikiran Bu Mus juga adalah perkenalan bernuansa akrab antara murid. Oleh karena itu, Bu Mus mengelompokkan murid berdasarkan kemiripannya, bukan kepintarannya (menurut catatan sekolah-sekolah di kota telah mengenal tingkatan berdasarkan IQ murid-muridnya karena ada rekomendasi dari sekolah TK), bukan juga berdasarkan nama orang tuanya, status ekonominya dan sosialnya. Murid-murid SD Muhammadiyah adalah pilihan karena kelemahan di bidang ekonomi, ketersisihan di bidang sosial, ketertinggalan di bidang keinginan yang tertanam jauh dalam tanah para penguasa timah. Para murid dibiarkan mengenal dirinya sendiri, mengamati.

Pada awalnya Bu Mus telah berpengamatan cermat. Dalam sekilas dia melihat apa yang harus dilakukannya dalam penempatan tempat duduk. Mungkin saja kita beralasan murid Bu Mus hanya 10 orang. Jumlah murid tidak membatasi dalam berkreativitas. Jumlah murid tidak membatasi dalam munculnya masalah. Masalah akan bermunculan di kelas manakala tidak salah penanganan sejak awalnya. Dengan insting yang cukup tajam Bu Mus memulai menata tempat duduk. Dia telah melaksanakan pengelolaan kelas dengan benar. Dia membangun keakraban antara murid dengan menyatukan unsur kesamaan (kemiripan) di antara murid.

Apa yang membuat semangat guru berkobar? Jumlah murid yang banyak atau sebaliknya murid yang sedikit? Gaji yang besar? Tempat belajar yang nyaman? Banyak motivasi yang bisa didaftar sebanyak guru. Kemunginan selalu ada alasan apa yang mendorong guru mengajar bersemangat. Marilah kita simak bagaimna cara Pak Harfan, kepala sekolah mengajar.

“Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ke tempat-tempat kematian kalian dalam masa tiga hari!” Demikian Pak Harfan berteriak lantang sambil menatap langit melalui jendela kelas kami. Beliau memekikkan firasat mimpi seorang penduduk Mekkah, firasat kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar.(22)

Cara yang indah menyuarakan materi pelajaran. Bagi Pak Harfan selalu ada ruang untuk berekspresi, untuk berinisiatif, untuk memperlihatkan betapa pentingnya setiap materi pelajaran disuarakan dengan benar dan lantang. Inilah pelajaran dengan cara membelajarkan murid. Kita perhatikan reaksi murid-muridnya.

Mendengar teriakan itu rasanya aku ingin melonjak dari tempat duduk. Kami ternganga karena suara Pak Harfan yang berat menggetarkan benang-benang halus dalam kalbu kami. Kami menanti liku demi liku cerita dalam detik-detik menegangkan dengan dada berkobar-kobar ingin membela perjuangan para penegak Islam. Lalu Pak Harfan mendinginkan suasana yang berkisah tentang penderitaan dan tekanan yang dialami seorang pria bernama Zubair bin Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah payah, seperti kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah, mendirikan sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah sekolah pertama di Belitong. Kemudian muncul para tokoh seperti K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban habis-habisan melanjutkan sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah. Sekolah ini adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra Selatan. (22-23)

Pak Harfan telah menerapkan salah satu prinsip pembelajaran kontekstual. Sejarah Islam (tarikh) dibawa ke alam Belitong. Pengaitan ini akan mencerahkan para murid. Mereka akan mengira-ngira hubungan sejarah antara dunia zaman baheula dengan sekarang. Keterhubungan ini penting dalam pembelajaran karena dalam posisi ini akan terjadi pencarian makna. Untuk apa mereka belajar dengan mengerahkan sepenuh hati dan pikir jika yang diperoleh hanya ketidakbergunaan. Gurulah yang harus menyediakan celah agar para murid dapat berpikir dengan cermat dan cepat. Apa yang disuguhkan Pak Harfan menunjuk ke arah ini. Apakah hari ini kita memiliki guru seperti ini?

Kita sangat banyak memiliki guru seperti Pak Harfan sekarang ini. Banyak ilmu yang telah dilatihkan kepada para guru. Guru telah juga melatihkan ilmu dan pengalamannya dalam keseharian tugas di kelas. Banyak sumber yang dapat dimanfaatkan dengan segera. Perkembangan teknologi sedemikian cepat sehingga perlombaan memperoleh informasi antara guru dan murid dapat diterjadikan. Artinya guru dapat memanfaatkan perkembangan arus teknologi-informatika bagi penanaman ilmu dan pengalaman kepada para murid. Keseimbangan dapat saja terjadi antara pengetahuan/pengalaman guru dan murid. Bahkan pengetahuan murid dalam materi tertentu lebih banyak. Guru apa pun alasannya tidak boleh dikendalikan murid. Gurulah yang berkewenangan mengendalikan peristiwa yang terjadi di kelas. persitiwa sekecil apa pun harus dirancang guru. Rancangan guru telah masuk ke wilayah bagaimana merancang perpaduan antara keinginan guru dan harapan murid.

Guru pada dasarnya adalah orang yang berkinginan orang lain maju. Dia menjadikan dirinya sebagai fasilitas yang membuat orang lain dapat melaju dengan cepat sesuai dengan potensi yang tertanam dalam diri para muridnya. Tidak ada kebahagian guru melebihi melihat para muridnya melebihi dirinya dalam segala aspek. Di mana pun guru itu dididik bahkan mungkin saja tidak pernah dididik. Jadi guru harus melekati dirinya dengan segala sifat memudahkan secara sistem sehingga para muridnya dengan tenang dan bahagia dapat menyampaikan berbagai hal yang diinginkannya, yang dicita-citakannya. Niat menjadi gurulah yang membedakan antara pengajar dan pendidik.

Siapakah Bu Mus itu? Inilah gambaran yang disampaikan Ikal.

N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid, atau kami memanggilnya Bu Mus, hanya memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri), namun beliau bertekad melanjutkan cita-cita ayahnya—K.A. Abdul Hamid, pelopor sekolah Muhammadiyah di Belitong—untuk terus mengobarkan pendidikan Islam. Tekad itu memberinya kesulitan hidup yang tak terkira, karena kami kekurangan guru—lagi pula siapa yang rela diupah beras 15 kilo setiap bulan? Maka selama enam tahun di SD Muhammadiyah, beliau sendiri yang mengajar semua mata pelajaran—mulai dari Menulis Indah, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Ilmu Bumi, sampai Matematika, Geografi, Prakarya, dan Praktik Olahraga. Setelah seharian mengajar, beliau melanjutkan bekerja menerima jahitan sampai jauh malam untuk mencari nafkah, menopang hidup dirinya dan adik-adinya. BU MUS adalah seroang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan. (LP halaman 29)

Lulusan SKP berniat jadi guru karena tergerak ingin melihat anak-anak maju. Dia tidak tega pendidikan Islam mati. Dia merasa berdosa jika tidak meneruskan perjuangan ayahnya. Niat yang tulus itu melindas kesulitan hidup. Dia tidak lagi berpikir apa yang diperolehnya sebagai guru. Guru bagi dia adalah mengabdi sepenuh hati dengan memberi hati dan ingin kepada para muridnya. Dia harus membuka jalan bagi para muridnya untuk beraktivitas. Dia mengajar semua mata pelajaran. Apa bisa? Nyatanya memang bisa (Maka selama enam tahun di SD Muhammadiyah, beliau sendiri yang mengajar semua mata pelajaran—mulai dari Menulis Indah, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Ilmu Bumi, sampai Matematika, Geografi, Prakarya, dan Praktik Olahraga.). Apa yang dapat kita bayangkan pada masa itu. Letak Belitong yang sangat juah dari ibukota kabupaten, tidak ada internet, tidak ada sumber lain. Keluh kesah tidak lagi menempel pada dirinya. Berjuang terus menerus tanpa henti. (Setelah seharian mengajar, beliau melanjutkan bekerja menerima jahitan sampai jauh malam untuk mencari nafkah, menopang hidup dirinya dan adik-adinya). Guru sejak awal bukanlah gantungan hidupnya dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya. Guru lebih ditekankan pada bagaimana dirinya bisa berekspresi lepas dalam mewujudkan rasa cita-citanya.

Kita memang selama ini agak lengah melihat apa yang ada di balik kenyataan. Kita sering lupa ada hikmah di balik segala peristiwa yang kita rencanakan dan direncakan untuk kita.

Kehidupannya tidak berkurang dengan mencurahkan baktinya sebagai guru. Para murid beraktivitas seperti layaknya muri-murid lainnya. Dia hidup di sekolah. Dia hidup di masyarakat. Dia merancang dan menyiapkan yang seharusnya ada. Dia tidak bergantung pada yang seharusnya ada. Bermula dari yang ada dia kembangkan lebih jauh. Bagiamana mungkin, secara teoretis, lulusan SKP mampu menyusun materi pembelajaran untuk anak-anak SD. Bu Mus menyusun kurikulum perilaku anak-anak. Rancangannya menuju pada bagaimana anak-anak harus berperilaku di sekolah, di rumah, dan di masyarakat.

Beliau menyusun sendiri silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi—jauh hari sebelum orang-orang sekarang meributkan soal materialisme versus pembangunan spiritual dalam pendidikan. Dasar-dasar moral itu menuntun kami membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya.

“Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian Bu Mus selalu menasihati kami. Bukankah ini kata-kata yang diilhami surah An-Nisa dan telah diucapkan ratusan kali oleh puluhan khatib? Sering kali dianggap sambil lalu saja oleh umat. Tapi jika yang mengucapkannya Bu Mus kata-kata itu demikian berbeda, begitu sakti,berdengung-dengung di dalam kalbu. Yang terasa kemudian adalah penyesalan mengapa telah terlambat shalat.(29-30)

Apa sebenarnya yang diingat para murid atas kata-kata gurunya? Kata-kata menjadi bermakna jika diucapkan oleh orang yang berbobot. Perhatian kepada kata tertuju pada siapakah yang mengucapkannya. Anak-anak sekolah dasar ada pada wilayah mencari perhatian dan alasan mengapa saya harus melakukan sesuatu. Alasan itu dicarinya menurut caranya. Fokus mereka adalah pengucapnya, bukan kata-katanya.( Tapi jika yang mengucapkannya Bu Mus kata-kata itu demikian berbeda, begitu sakti,berdengung-dengung di dalam kalbu. Yang terasa kemudian adalah penyesalan mengapa telah terlambat shalat). Faktor orangnya, Bu Muslah yang menjadi acuannya. Anak-anak sekolah dasar ada pada masa keinginan untuk mempercayai orang. Pada diri gurulah pertama-tama mereka mencarinya. Mereka akan kecewa jika guru yang akan diidolakannya ternyata tidak memenuhi persyaratan.

Anak-anak sekolah dasar pada dasarnya lebih kritis. Mereka menilai dalam diam. Mereka memperhatikan segala gerak laku guru dalam tatapan dan sinyalnya diantar ke hati. Apa yang diperilakukan guru ditatanya dalam hati, dimasukkan secara sistematis ke dalam kognitifnya. Apa kata guru sering diucap ulang manakala diperlukan dan para murid sangat banyak keperluannya mengucap ulang kata-kata guru. Pendidikan bagaimana mendidik di sekolah merupakan fokus bagi guru dalam berikhtiar mewujudkan para murid cerdas dan berakhlak kharimah. Tujuan apa yang tertulis dalam kurikulum sangat tergantung pada guru dalam menatahkannya ke dalam hati murid. Salah satu tugas berat guru adalah bagaimana mengubah dari tertulis (apa yang ada dalam kurikulm) menjadi tercatat dalam hati murid, dalam pikiran murid, dan dalam perilaku murid.

Inilah tugas utama guru yang paling berat, yaitu menanamkan bibit dalam hati setiap murid untuk selalu berbuat baik. Segala mata pelajaran yang disampaikan kepada murid pada intinya berbalik pada bagaimana murid dapat berperilaku di masyarakat dengan benar. Sekolah (guru) harus mempunyai niat menyiapkan para muridnya agar berkemampuan menjalanlan hidup dengan benar di masyarakat, di wilayah yang lebih luas dari kelas. Oleh karena itu, kelas merupakan dunia kecil, dunia mini. Dalam pikiran guru segala masalah yang muncul di kelas harus diarifi dengan bijaksana. Pandangan-pandangan guru diresapkan kepada murid dengan cara yang bijak, tak berpihak, tidak memaksa. Kondisi ini dapat diciptakan dengan segala niat tulus yang keluar dari sanubari guru dan pengetahuan serta pengalaman yang fungsional. Pengetahuan yang menumpuk dalam kepala guru dan pengalaman yang banyak tidaklah menjamin guru mampu memuaskan dahaga para murid. Pemilihan waktu yang tepat adalah bagian yang sangat penting dipegang guru. Rangkaian pengalaman berguna manakala kita mampu melesapkannya pada bagian yang penting dalam sanubari guru.

Perhatikan bagaimana Bu Mus menutup keluhan para muridnya.

Pada kesempatan lain, karena masih kecil tentu saja, kami sering mengeluh mengapa sekolah kami tak seperti sekolah-sekolah lain. Terutama atap sekolah yang bocor dan sangat menyusahkan saat musim hujan. Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi mengeluarkan sebuah buku berbahasa Belanda dan memperlihatkan sebuah gambar. Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap, angker, penuh kekerasan dan kesedihan.

“Inilah sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.”

Beliau tak melanjutkan ceritanya. (31-32)

Bagaimana Bu Mus memberikan wawasan kepada para muridnya dengan jitu. Keluhan murid dibandingkan dengan pengorbanan orang yang dikenal oleh semua bangsa ini. Tidak perlu banyak bicara. Dia ingin memberikan gambaran kepada para muridnya bahwa kita tidak menderita, bahwa orang besar lahir bukan dari tempat yang mewah. Niatlah yang penting. Segala hal bisa ditabrak dengan niat suci yang keluar dari hati. Inilah yang sebenarnya ingin dinasihatkan Bu Mus. Untuk mewakilinya dia cukup dengan memperlihatkan gambar itu.

Memang masuk akal bila murid-murid Bu Mus mengeluhkan karena mereka membandingkan dengan tetangga sebelahnya yang gemerlapan.

Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak kalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria di sekitarnya. Ruangan kelasnya dicat warna-warni dengan tempelan gambar kartun yang edukatif, poster operasi dasar matematika, tabel pemetaan unsur kimia, peta dunia, jam dinding, termometer, foto para ilmuwan dan penjelajah yang memberi inspirasi, dan ada kapstok topi. Di setiap kelas ada patung anatomi tubuh yang lengkap, globe yang besar, white board, dan alat peraga konstelasi planet-planet.

Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa brilian bersaing ketat dalam standar mutu yang sanggat tinggi. Sekolah-sekolah ini memiliki perpustakaan, kantin, guru BP, laboratorium, perlengkapan kesenian, kegiatan ekstrakurikuler yang bermutu, fasilitas hiburan, dan sarana olahraga—termasuk sebuah kolam renang yang masih disebut dalam bahasa Belanda: zwembad. Di depan pintu masuk kolam renang ini tentu saja terpampang peringatan tegas “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”. Di setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan pertama. Kalau ada siswanya yang sakit maka ia akan langsung mendapatkan pertolongan cepat secara profesional atau segera dijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung. (57-58)

Mereka membandingkan dengan kata seandainya. Kata inilah yang mengganggu mereka untuk berimajinasi berada dalam suasana lain, suasana yang berlainan dengan biasanya. Mereka sangat hapal bahwa semuanya mimpi. Sangat tidak mungkin berada di tempat itu. Kesusahan menurut anggapan mereka sangat jauh dari para murid, para guru di sekolah PN Timah tersebut. Penyakit yang sangat berbahaya adalah menggunakan kata seandainya terlalu sering. Bahkan kemungkinan besar tidak akan pernah bekerja, berbuat karena sibuk membayangkan, melamunkan. Dengan kecerdikan yang sangat Bu Mus membalikkan kondisi itu. Dia tahu bahwa para muridnya gelisah. Dia lebih tahu apa yang seharusnya dikerjakan agar para muridnya tidak gelisah. Pembandingan dengan yang lebih tidak mungkin karena tidak akan tecapai sampai kapan pun. Dunia murid-muridnya berbeda dengan kondisi tetangganya dalam hal “kekayaan” lahir. Akan tetapi, dia sangat yakin ada kekayaan batin, keinginan kuat yang terpancar dari para muridnya bahwa mereka ingin maju, ingin belajar, ingin berubah, ingin mewujudkan mimpinya. Tugas dia adalah memberikan jalan, mendorong agar para muridnya menemukan kemasing-masingannya.

Bagaimanakah cara Bu Mus memberikan tanggung jawab kepada muridnya sebagai ketua kelas. Nasihatnya selalu dilatarkan pada fakta, pada sejarah, pada contoh nyata yang tidak terbantahkan.

Suatu hari dalam pelajaran budi pekerti kemuhamadiyahan, Bu Mus menjelaskan tentang karakter yang dituntut Islam dari seorang amir. Amir dapat berarti seorang pemimpin. Beliau menyitir perkataan Khalifah Umar bin Khatab.

“Barangsiapa yang kami tunjuk sebagai amir dan telah kami tetapkan gajinya untuk itu, maka apa pun yang ia terima selain gajinya itu adalah penipuan!”

Rupanya Bu Mus geram dengan korupsi yang merajalela di negeri ini dan beliau menyambung dengan lantang.

“Kata-kata itu mengajarkan arti penting memegang amanah sebagai pemimpin dan Al-Qur’an mengingatkan bahwa kepemimpinan seseorang akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat ....”

Kami terpesona mendengarnya, namun Kucai gemetar. Mendapati dirinya sebagai seorang pemimpin kelas ia gamang pada pertanggungjawaban setelah mati nanti, apalagi sebagai seorang politisi ia menganggap bahwa menjadi ketua kelas itu tidak ada keuntungannya sama sekali. Tidak adil! Lagi pula ia sudah muak mengurusi kami. Kami terkejut karena serta-merta ia berdiri dan berdalih secara diplomatis.(69-70).

Pengutaraan menjadi kontekstual. Arah pikir para murid ditentukan dengan kisah itu secara jelas. Ke mana seharusnya para murid berkiblat. Bu Mus sekedar memberi tahu dan para murid menjadi tahu apa yang harus diperbuatnya, murid dipahamkan mana yang benar dan mana yang salah. Para murid berikhtiar mencari pembuktian di lapangan ke mana arah nasihat Bu Mus. Pandangan di depan tentang praktik tidak terpuji beberapa pemimpin terbentang.

Teks yang terucap dari pikir dan rasa Bu Mus terbuka untuk direspons. Ada yang mengaitkan dengan kondisi pada saat itu. Di laur sana semarak korupsi dilakukan para pemimpin yang tidak bermoral. Ada juga yang tersinggung dalam pengertian positif dan dia bereaksi.

“Ibunda Guru, Ibunda mesti tahu bahwa anak-anak kuli ini kelakuannya seperti setan. Sama sekali tak bisa disuruh diam, terutama Borek, kalau tak ada guru ulahnya ibarat pasien rumah sakit jiwa yang buas. Aku sudah tak tahan, Ibunda, aku menuntut pemungutan suara yang demokratis untuk memilih ketua kelas baru. Aku juga tak sanggup mempertanggungjawabkan kepemimpinanku di padang Masyar nanti, anak-anak kumal ini yang tak bisa diatur ini hanya akan memberatkan hisabku!”

Kucai tampak sangat emosional. Tangannya menunjuk-nunjuk ke atas dan napasnya tersengal setelah menghamburkan unek-unek yang mungkin telah dipendamnya bertahun-tahun. Ia menatap Bu Mus dengan mata nanar tapi pandangannya ke arah gambar R.H. Oma Irama Hujan Duit.

Begitulah kata-kata Bu Mus itu menyengat salah seorang muridnya yang dipercaya sebagai ketua kelas. Betapa percayanya anak-anak itu pada ucapan gurunya. Sesuatu yang agak sulit dikaitkan dengan keadaan kini. Segala ucap yang ke luar dari ucap guru belum tentu diturut. Kondisi kelas yang serba rentan pada berbagai gangguan berpotensi munculnya perilaku tidak terduga dari para murid. Apa yang diajarkan belum tentu apa yang dilakukan. Mereka banyak melihat kontradiksi dalam kehidupannya. Ucap guru perlu tidak dapat langsung dicerna. Kekuatan kata-kata itu kini dipertanyakan keterandalannya.

Bagaimana Bu Mus menanggapinya? Guru adalah pancaran keibuan, kepedulian, keramahan, kebersambungan dalam rangkaian keinginan dan harapan para murid dan orang tua. Guru dengan keyakinannya tidak berniat mematikan motivasi dan inspirasi anak-anaknya. Perhatikan perbedaan respons antara murid, teman-teman Kucai dan guru, Bu Mus.

Kami semua menahan tawa melihat pemandangan itu tapi Kucai sedang sangat serius, kami tak ingin melukai hatinya.

Dalam ketertawaan ada penahanan keberlanjutan yang dilatari oleh kesetiakawanan. Bagaimana Bu Mus telah menanamkan rasa kebersamaan dan kesetihatian dalam kelas yang tidak terlalu besar, dalam kelas yang serba sangat terbatas. Akan tetapi, dia mengajar tanpa batas. Dia membawa murid-muridnya ke alam terbuka. Dia membawa anak-anaknya menyusuri pengalaman yang tidak akan mungkin terlupakan. Perhatikan bagaimana Bu Mus mengajari murid-murid mempertimbangan dan memperhatikan pendapat orang.

Bu Mus juga terkejut. Tak pernah sebelumnya beliau menerima tanggapan selugas itu dari muridnya, tapi beliau maklum pada beban yang dipikul Kucai. Beliau ingin bersikap seimbang maka beliau segera menyuruh kami menuliskan nama ketua kelas baru yang kami inginkan di selembar kertas, melipatnya, dan menyerahkannya kepada beliau. Kami menulis pilihan kami dengan bersungguh-sungguh dan saling berahasiakan pilihan itu dengan sangat ketat. Kucai senang sekali. Wajahnya berseri-seri. Ia merasa telah mendapatkan keadilan dan menganggap bahwa bebannya sebagai ketua kelas akan segera berakhir.

Suasana menjadi tegang menunggu detik-detik penghitungan suara. Kami gugup mengantisipasi siapa yang akan menjadi ketua kelas baru. Sembilan gulungan kertas telah berada dalam genggaman Bu Mus. Beliau sendiri kelihatan gugup. Beliau membuka gulungan pertama.

Tanggapan Kucai, salah seorang muridnya ditanggapinya dengan baik. Dia menyalurkan keberatan Kucai. Dia mengajarkan keseimbangan dan keberpihakan kepada semua orang, kepada semua muridnya. Kondisi di atas menggambarkan bagaimana dia menerima dan menyalurkan kehendak muridnya tidak dengan marah. Dia menanggapinya dengan tindakan, dengan musyawarah. Dia sedang mengajarkan kepada para muridnya bagaimana menyelesaikan masalah dengan benar, dengan tidak menyinggung perasaan orang lain, dengan melibatkan semua orang yang mempunyai hak. Semua muridnya didewasakan. Inilah yang kini kurang kita sadari. Tidak jarang guru salah perhitungan. Sangat sedih jika guru tidak mengenal para muridnya. Bu Mus sangat mengenal para muridnya. Memang hanya 10 orang. Akan tetapi, jumlah bukanlah alasan. Guru, terutama guru sekolah dasar setiap hari berinteraksi dengan para muridnya. Jadi, tidak ada alasan bahwa guru tidak mengenal karakter murid-muridnya secara lahir dan batin.

“Borek!” teriak Bu Mus.

Borek pucat dan Kucai melonjak girang. Terang-terangan ia menunjukkan bahwa ia sendiri yang telah memilih Borek, kawan sebangkunya yang ia anggap pasien rumah sakit jiwa yang buas. Bu Mus melanjutkan.

“Kucai!”

Kali ini Borek yang melonjak dan Kucai terdiam. Kertas ketiga.

“Kucai!”

Kucai tersenyum pahit. Kertas keempat.

“Kucai!”

Kertas kelima.

“Kucai!”

Kucai pucat pasi. Demikian seterusnya sampai kertas kesembilan. Kucai terpuruk. Ia jengkel sekali kepada Borek yang tubuhnya menggigil menahan tawa. Ia memandang Borek dengan tajam tapi matanya mengawasi Trapani. Karena Harun tak bisa menulis maka jumlah kertas hanya sembilan tapi Bu Mus tetap menghargai hak asasi politiknya. Ketika Bu Mus mengalihkan pandangan kepada Harun, Harun mengeluarkan senyum khas dengan gigi-gigi panjangnya dan berteriak pasti.

“Kucai ...!”

Bu Mus membiarkan semuanya berjalan seadanya. Dia tidak mengarahkan harus memilih siapa. “Pemilu” ketua kelas itu dibiarkan berlangsung dengan tertib dan rahasia. Siapa memilih siapa tidak ada paksaan. Inilah pelajaran berharga yang diajarkannya di kelas kepada para muridnya. Tanpa kata panjang, tetapi makna yang memanjang dalam hati para murid.

Kucai terkulai lemas. Hari ini kami mendapat pelajaran penting tentang demokrasi, yaitu bahwa ternyata prinsip-prinsipnya tidak efektif untuk suksesi jabatan kering.

Para murid mengakui memperoleh apa dalam pelajaran itu dan bagaimana Bu Mus mengakhirinya dengan kelembutan seorang ibu yang senantiasa melindungi anak-anaknya. Senyumnya bisa meluluhkan para muridnya karena memang pancaran keikhlasan hati tak terpengaruh apa pun. Apa yang akan kita lakukan manakala menerima senyum tulus.

Bu Mus menghampirinya dengan lembut sambil tersenyum jenaka.

“Memegang amanah sebagai pemimpin memang berat tapi jangan khawatir orang yang akan mendoakan. Tidakkah Ananda sering mendengar di berbagai upacara petugas sering mengucap doa: Ya, Allah lindungilah para pemimpin kami? Jarang sekali kita mendengar doa: Ya Allah lindungilah anak-anak buah kami ....”

Bu Mus selalu mengaitkan apa yang terjadi di kelas dengan apa yang terjadi dalam kehidupan nyata. Kekuatan kata-katanya terpantul dari pengamatan dunia luar yang cukup luas. Para murid diajak untuk mandiri dalam dunia realita dan menuju masa depan. Bu Mus tidak mau mengajarkan kesia-siaan kepada para muridnya. Ia ingin mengajari murid-muridnya bagaimana membangun hidup dengan benar dan bermula dalam dunia kecil, kelas. Kebanyakan guru terkadang lupa bahwa kehidupan mini itu ada di kelas, bahwa masa depan bangsa dan negara itu salah satunya ditentukan oleh anak-anak kita yang sedang belajar di kelas. Guru memberikan gambaran bagaimana menghadapi tantangan hidup untuk masa yang akan datang yang sangat berbeda dengan apa yang dihadapinya saat ini. Guru yang mengajari murid apa adanya tidak akan terlalu banyak manfaat digunakan pada masa yang akan datang. Memang guru tidak mungkin dapat mengajari segalanya. Akan tetapi, untuk meraih segalanya perlu diajarkan bagaimana mencapainya. Nah, guru berkewajiban memberikan bekal kepada para muridnya agar berkemampuan meraih tujuan dalam kehidupannya. Guru membukakan jalan dengan benar, tidak perlu menggandengnya sampai ke tujuan. Biarlah mereka tumbuh dengan kemampuannya sendiri.

Jika kami kesulitan, ia mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, kecemerlangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikit pun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara, galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami.

Lintang selalu terobsesi dengan hal-hal baru, setiap informasi adalah sumbu ilmu yang dapat meledakkan rasa ingin tahunya kapan saja. Kejadian ini terjadi ketika kami kelas lima, pada hari ketika ia diselamatkan oleh Bodenga.

Kesetaraan dalam kebersamaan bernuansa saling bahagia dalam satu komunitas adalah nilai berkependidikan yang selayaknya diwujudkan guru dalam membina murid-muridnya. Membangun suasana seperti itu bukan sesuatu yang gampang. Pemahaman akan berbagai karakter murid dan kondisi lingkungan diperlukan dengan pandangan tajam. Merasakan kebahagian manakala orang lain bahagia memerlukan waktu yang cukup lama dalam pengertian asahannya harus tajam. Mengasah rasa kebersamaan tidaklahlah gampang. Para murid Bu Mus merasakan adanya kondisi itu. Kebersatuan merupakan kekuatan utama. Alangan apa pun tidaklah berarti jika keyakinan mengalahkan semuanya muncul dalam sanubari masing-masing.

Guru yang dapat membangun kondisi kebahagian dalam kesederhanaan (karena memang begitu adanya) adalah guru yang berkarakter. Dia mendidik dan mengajar karena kesukaan, karena dorongan kuat untuk memajukan bangsa, meningkatkan kualitas bangsa dan dia memulai berbuat di kelas. dalam pikirannya yang sederhana (padahal cukup rumit apa yang ada dalam pikirannya, tetapi disajikan dalam kegiatan kesederhanaan) bahwa kewajibannya adalah mengerjakan apa yang sekarang harus dikerjakannya. Dia mendidik dengan sekuat hati, dia mendidik dengan hati.

Apa yang dilontarkan para muridnya diterima dengan hati, dijawab dengan hati, dikemukakan juga dengan hati-hati. Perilakunya didasarkan pada hati bening. Bagaimana dia memuaskan permintaan salah seorang murid. Dia mengabulkannya dengan catatan.

“Al-Qur’an kadangkala menyebut nama tempat yang harus diterjemahkan dengan teliti ….” Demikian penjelasan Bu Mus dalam tarikh Islam, pelajaran wajib perguruan Muhammadiyah. Jangan harap naik kelas kalau mendapat angka merah untuk ajaran ini.

“Misalnya negeri yang terdekat yang ditaklukkan tentara Persia pada tahun ….”

“620 Masehi! Persia merebut kekaisaran Heraklius yang juga berada dalam ancaman pemberontakan Mesopotamia, Sisilia, dan Palestina. Ia juga diserbu bangsa Avar, Slavia, dan Armenia ….” Lintang memotong penuh minat, kami ternganga-nganga, Bu Mus tersenyum senang. Beliau menyampingkan ego. Tak keberatan kuliahnya dipotong. Beliau memang menciptakan atmosfer kelas seperti ini sejak awal. Memfasilitasi kecerdasan muridnya adalah yang paling penting bagi beliau. Tidak semua guru memiliki kualitas seperti ini.

Bu Mus menyambung, “Negeri yang terdekat itu ….”

“Byzantium! Nama kuno untuk Konstantinopel, mendapat nama belakangan itu dari The Great Constantine. Tujuh tahun kemudian negeri itu merebut lagi kemerdekaannya, kemerdekaan yang diingatkan dalam kitab suci dan diingkari kaum musyrik Arab, mengapa ia disebut negeri yang terdekat Ibunda Guru? Dan mengapa kitab suci ditentang?”

Apakah Bu Mus marah atas potongan-potongan pembicaraannya? Mungkin ada guru yang tidak ingin penjelasannya dialangi. Mungkin ada guru yang tidak senang penjelasannya didahului muridnya. Mungkin ada guru yang marah atas tingkah muridnya yang kurang sopan. Mungkin atas perilaku itu guru menngubah ajaran menjadi nasihat. Bukan lagi materi yang telah disiapkan yang meluncur dari pikirannya. Nasihat, petatah-petitihlah yang menjadi santapan para muridnya. Beginilah cara Bu Mus menangani masalah itu.

“Sabarlah anakku, pertanyaanmu menyangkut penjelasan tafsir surah Ar-Ruum dan itu adalah ilmu yang telah berusia paling tidak seribu empat ratus tahun. Tafsir baru akan kita diskusikan nanti kalau kelas dua SMP….”

“Tak mau Ibunda, pagi ini ketika berangkat sekolah aku hampir diterkam buaya, maka aku tak punya waktu menunggu, jelaskan di sini, sekarang juga!”

Bu Mus mengabulkan permintaan Lintang. Dengan kesabaran dan pengetahuan yang mencukupi dia memberikan kasih kepada para muridnya. Apa yang dilakukan Bu Mus itu berdampakan kepada perilaku muri-muridnya. Penghargaan di antara mereka tercipta. Dukungan dengan nuansa kagum memancar dari rangkaian kata teman-teman Lintang.

Kami bersorak dan untuk pertama kalinya kami mengerti makna adnal ardli, yaitu tempat yang dekat atau negeri yang terdekat dalam arti harfiah dan tempat paling rendah di bumi dalam konteks tafsir, tak lain dari Byzantium di kekaisaran Roma sebelah timur. Kami bersorak tentu bukan karena adnal ardli, apalagi Byzantium yang merdeka, tapi karena kagum dengan sikap Lintang menantang intelektualitasnya sendiri. Kami merasa beruntung menjadi saksi bagaimana seseorang tumbuh dalam evolusi intelegensi. Dan ternyata jika hati kita tulus berada di dekat orang berilmu, kita akan disinari pancaran pencerahan, karena seperti halnya kebodohan, kepintaran pun sesungguhnya demikian mudah menjalar.

Dengarlah refleksi salah saorang sahabat Lintang. Hal ini terjadi karena kesabaran Bu Mus dalam memahami perilaku murid-muridnya. Bu Mus menciptakan keluarga. Peran dia tidak hanya guru yang terlepas dari dunia anak-anak. Panggilan Bunda dan ananda mengisyaratkan keakraban tiada batas antara kedudukan. Penghormatan sebagai guru diperoleh Bu Mus dengan perilaku manis murid-muridnya. Dengan rasa cinta yang berkecukupan Bu Mus membimbing murid-muridnya dan dengan kasih juga murid-muridnya membalas. Keterpaduan kasih di antara guru dan murid menjadi kekuatan yang dapat melawan apa pun. Mereka menjadi tegar dalam kesederhanaan. Mereka menjadi menerima keadaan dengan mengolah menjadi kekuatan. Mereka menjadi menang melawan dirinya sendiri. Mereka menjadi menang dalam bersaing dengan dirinya sendiri. Cara pandang kepada teman disejalankan atas kebisaannya. Tidak ada rasa iri terhadap kemampuan teman. Rasa hormatlah yang muncul.

Inilah refleksi Ikal tentang Lintang yang dikaguminya.

ORANG cerdas memahami konsekuensi setiap jawaban dan menemukan bahwa di balik sebuah jawaban tersembunyi beberapa pertanyaan baru. Pertanyaan baru tersebut memiliki pasangan sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam deretan eksponensial. Sehingga mereka yang benar-benar cerdas kebanyakan rendah hati, sebab mereka gamang pada akibat dari sebuah jawaban. Konsekuensi-konsekuensi itu mereka temui dalam jalur-jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalar-jalar, jalur yang tak dikenal di lokus-lokus antah berantah, tiada berujung. Mereka mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat jauh di dalamnya, sendirian.

Guru dengan keyakinan yang sangat dapat mewujudkan orang cerdas seperti itu karena pada dasarnya guru adalah orang-orang cerdas yang mengabdikan pada kehidupan anak-anak. Dalam sanubarinya guru selalu berkeinginan melihat anak-anaknya maju melebihi seperti dirinya. Apa yang menyebabkan anak-anaknya supaya maju ditelusurinya. Begitulah sebenarnya dalam hatinya guru-guru.

Godaan-godaan besar bersemayam di dalam kepala orang-orang cerdas. Di dalamnya gaduh karena penuh dengan skeptisisme. Selesai menyerahkan tugas kepada dosen, mereka selalu merasa tidak puas, selalu merasa bisa berbuat lebih baik dari apa yang telah mereka presentasikan. Bahkan ketika mendapat nilai A plus tertinggi, mereka masih saja mengutuki dirinya sepanjang malam. Orang cerdas berdiri di dalam gelap, sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lian. Mereka yang tak dipahami oleh lingkungannya, terperangkap dalam kegelapan itu. Semakin cerdas, semakin terkucil, semakin aneh mereka. Kita menyebut mereka: orang-orang yang sulit. Orang-orang sulit ini tak berteman, dan mereka berteriak putus asa memohon pengertian. Ditambah sedikit saja dengan sikap introver, maka orang-orang cerdas semacam ini tak jarang berakhir di sebuah kamar dengan perabot berwarna teduh dan musik klasik yang terdengar lamat-lamat, itulah ruang terapi kejiwaan. Sebagian dari mereka amat menderita.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak cerdas hidupnya lebih bahagia. Jiwanya sehat walafiat. Isi kepalanya damai, tenteram, sekaligus sepi, karena tak ada apa-apa di situ, kosong. Jika ada suara memasuki telinga mereka, maka suara itu akan terpantul-pantul sendirian di dalam sebuah ruangan yang sempit, berdengung-dengung sebentar, lalu segera keluar kembali melalui mulut mereka. Jika menyerahkan tugas, mereka puas sekali karena telah berhasil memenuhi batas akhir, dan ketika mendapat nilai C, mereka tak henti-hentinya bersyukur karena telah lulus. Mereka hidup di dalam terang. Sebuah senter menyiramkan sinar tepat di atas kepala mereka dan pemikiran mereka hanya sampai pada batas lingkaran cahaya senter itu. Di luar itu adalah gelap. Mereka selalu berbicara keras-keras karena takut akan kegelapan yang mengepung mereka. Bagi sebagian orang, ketidaktahuan adalah berkah yang tak terkira.

Guru menancapkan niat dalam hatinya mendidik anak-anak agar cerdas, berpenasaran tinggi, memunculkan ketidakpuasan pada ilmu, berkeinginan menelusuri sumber yang lebih besar. Apa yang dilakukan Bu Mus adalah menyediakan dirinya sebagai fasilitator, pemudah bagi kelanjutan hidup murid-muridnya. Hidupnya diabdikan untuk kemajuan murid-muridnya. Inilah guru bangsa yang sesungguhnya yang mestinya ada di mana-mana, tidak hanya ada di kelas. dalam berbagai kegiatan seharusnyalah guru-guru itu bertebaran menebarkan ilmu luhungnya. Dalam gerak, dalam lidah para pemimpin seharunya melambangkan keguruan dalam hal keilmuan, dalam hal kesungguhan.

Aku pernah mengenal berbagai jenis orang cerdas. Ada orang genius yang jika menerangkan sesuatu lebih bodoh dari orang yang paling bodoh. Semakin keras ia berusaha menjelaskan, semakin bingung kita dibuatnya. Hal ini biasanya dilakukan oleh mereka yang sangat cerdas. Ada pula yang kurang cerdas, bahkan bodoh sebenarnya, tapi kalau bicara ia terlihat paling pintar. Ada orang yang memiliki kecerdasan sesaat, kekuatan menghafal yang fotografis, namun tanpa kemampuan analisis. Ada juga yang cerdas tapi berpura-pura bodoh, dan lebih banyak lagi yang bodoh tapi berpura- pura cerdas.

Mungkinkah guru mempunyai kemampuan mencetak murid-murid menjadi orang cerdas seperti Lintang? Tidak ada yang tidak mungkin. Guru berada di depan para muridnya karena mempunyai keyakinan, karena mempunyai kesungguhan, karena mempunyai harapan. Buat apa ada di kelas jika tidak mempunyai program bagaimana mengelola kelas, bagaimana menggodok murid, bagaimana mengalihkan perhatian murid ke arah yang berkeluasaan. Keluhan tentang sarana dan prasarana bisa dibereskan dengan keleluasaan hati, dengan kebesaran jiwa. Mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Bertindak dan berkarya dalam lingkung kemampuan konteks lebih berarti dan dapat membahagiakan murid-murid kita.

Namun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat membayangkan wajah sebuah konstruksi suatu fungsi jika digerak-gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus-kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami teknik menghitung luas poligon dengan cara membongkar sisi-sisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa ini sama sekali bukan perkara mudah. Ia sering membuat permainan dan mendesain visualisasi guna menerjemahkan rumusan geometris pada tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Tujuannya agar gampang disimulasikan sehingga kami sekelas dapat dengan mudah memahami kerumitan Teorema Kupu-Kupu atau Teorema Morley yang menyatakan bahwa pertemuan segitiga yang ditarik dari trisektor segitiga bentuk apa pun akan membentuk segitiga inti yang sama sisi. Semua itu dilengkapinya dengan bukti-bukti matematis dalam jangkauan analisis yang melibatkan kemampuan logika yang sangat tinggi. Ini juga sama sekali bukan urusan mudah, terutama untuk tingkat pendidikan serendah kami. Dan mengingat kopra maka kuanggap apa yang dilakukan Lintang sangat luar biasa.

Lintang juga cerdas secara experiential yang membuatnya piawai menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas. Dalam kaitan ini, ia memiliki kapasitas metadiscourse selayaknya orang-orang yang memang dilahirkan sebagai seorang genius. Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem mekanik parsial sepotong kaki maka Liontang telah memahami sistem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu menjelaskan peran sepotong kaki itu dalam keseluruhan mekanika persendian dan otot-otot yang terintegrasi. Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar verbal dan logika kualitatif.

Ia juga mempunyai descriptive power, yakni suatu kemampuan menggambarkan sesuatu dan mengambil contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris di hari-hari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu.(109-117)

CATATAN PENGHUJUNG

Banyak warna dalam Laskar Pelangi yang belum terungkap. Ungkapan yang bermakna terbuka dengan interaksi pribadi. Apa yang diuraikan di atas sekedar mengingatkan kita bahwa banyak pembelajaran dalam teks sastra. Dalam berpikir rangkaian selanjutnya diharapkan kita sebagai guru mempertimbangkan adanya teks sastra yang dapat dijadikan cermin berpikir dan bertindak masuk ke wilayah yang tidak sempat dikunjungi karena keterbatasan. Apa yang akan diperoleh setelah mengungkap personal dan sosial makna Laskar Pelangi menjadikan perjalanan kita semarak, penuh makna. Penangkapan makna itu terwujud manakala ikhlas dijadikan sandaran.

Beberapa pertimbangan dapat dijadikan pikiran mengapa kita harus memperhitungkan teks sastra.

1. Prosa berisi rangkaian peristiwa yang saling berkelanjutan. Runtutan peristiwa itu mengisyaratkan berbagai kejadian yang membawa kita ke wilayah berbeda, bukan di sini dan bukan hari ini tetapi di situ kita dapat masuk dan beraktivitas. Kutipan rangkaian dalam sastra dapat dijadikan tambahan materi ajar untuk kepentingan kinerja dan prestasi murid-murid kita. Mengajar sebenarnya merangkai peristiwa yang runtun agar sampai pada tujuan.

2. Membaca sastra itu asyik. Keharusan mengikuti cerita sampai akhir bukanlah paksaan, tetapi tuntutan dalam hati. Kita ingin tahu akhir cerita. Kepenasaran ingin kita puaskan dengan mengikuti langkah-langkah tokoh menuju saat-saat akhir. Bukankah mengajar juga harus memunculkan keasyikan sendiri bagi anak-anak kita?

3. Pembaca senang dikejutkan. Pada saat proses baca pembaca menduga-duga apa selanjutnya yang akan terjadi. Teks biasanya telah menyediakan lubang-lubang bagi para pembacanya. Pembaca yang jeli akan menemukan benang merah. Pembaca diajak berpikir dengan suguhan-suguhan peristiwa fungsional. Peristiwa itu serupa data yang akan membawa pembaca pada simpulan. Simpulan dicipta pembaca sebelum cerita berakhir. Mengajar pada intinya memunculkan kepenasaran pada murid agar terus mengikuti kegiatannya sampai akhir. Sajian yang membosankan akan memalingkan murid dari fokus pembelajaran. Tugas utama guru adalah menjaga agar fokus murid tidak beralih, terus terjaga pada lingkung yang telah tersediakan dengan menarik.

4. Apa yang ada dalam cerita adalah sesuatu yang tidak biasa, tetapi dapat dibiasakan dalam kegiatan harian kehidupan. Pengarang yang piawai menyajikan bagian-bagian yang tidak pernah ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sajiannya membuat kita menemukan sesuatu yang pada awalnya belum pernah mampir dalam kehidupan kita. Pengarang selalu menyajikan yang tidak biasa. Inilah khas. Cerita yang tidak khas tidak akan pernah bertahan lama. Mengajar merupakan kegiatan khas dengan materi khas, dengan cara khas. Apa yang dapat kita berikan kepada murid adalah sesuatu yang tidak ada dalam keseharian tetapi berguna dalam menempuh hidup.

5. Teks sastra menarik karena menawarkan kemungkinan. Makin banyak mengandung kemungkinan makin berhargalah ia. Tafsir yang multi akan membawa keriangan berpikir bagi pembaca. Kualitas sastra terletak pada kemungkinan-kemungkinan yang membawa pikiran pembaca menjadi terbuka mencari alternatif. Mengajar pada dasarnya memberikan kemungkinan kepada murid untuk berpeluang mengerjakan banyak hal setelah mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Kemungkinan diawali dengan sajian yang matang dalam hal substansi dan sistem. Guru dituntut memberikan materi mutakhir agar kemungkinan itu lebih jauh jangkauannya.

6. Pengarang berkualitas selalu menyisakan masalah di akhir cerita. Cerita itu tidak berakhir pada halaman terakhir. Halaman-halaman selanjutnya dipersilakan kepada pembaca untuk mengisinya. Pengarang menghormati kecerdasan pembaca. Dia tidak akan pernah menggurui. Dia hanya menyajukan begitu seharusnya. Setelah itu terserah pembaca. Mengajar adalah bercerita banyak hal dan cerita itu diakhiri pada akhir pelajaran. Setelah itu diserahkan kepada murid untuk melakukan aktivitas di luar kelas. Guru memberikan bekal cerita yang inti agar murid dapat melanjutkan cerita itu di masyarakat. Kisah sukses para murid adalah cerita bersambung setelah berakhir di kelas. Guru pada dasarnya tidak pernah mengakhiri cerita.

7. Teks sastra prosa naratif dianggap selesai karena ada runtun yang diawali pembuka dan diakhiri penutup. Keruntunan terasa bila sistematis terwujud. Runtun mungkin linear, mungkin juga nonlinear. Sebuah peristiwa selalu diawali dan diakhiri karena keterbatasan pencerita. Mengajar terbatas pada alokasi waktu. Kemampuan guru dalam membagi bab pembuka, inti, dan penutup tergantung pada bagaimana dia merangkai agar semua peristiwa mengajar tersaji dalam waktu yang tepat.

8. Sebuah karangan yang berkualitas ditandai dengan tahapan yang rasional. Bagian demi bagian dimunculkan secara fungsional. Rangkaian peristriwa itu runtun, tidak meloncat-loncat yang akan merusak cerita keseluruhan. Jadi, cerita itu menganut sabar. Mengajar berkualitas berbasis sabar. Guru harus tahu kapan tindakan instruksional tertentu dilaksanakan. Dampak tindakan dicermatinya. Tindakan tepat lebih berguna daripada banyak tindakan.

Cirebon, 17 Maret 2009

BAHAN BACAAN

Abrams, M.H. (1971). A Glossary of Literary Terms. New York : Hold, Rinehart and Winston, Inc.

Allen, C. (1988). Louis Rosenblatt and Theories of Reader Response. http://www. hutmu.edu/reader/online/20/intro.20.htm

Badger, E. & Thomas, B. (1992). Open-Ended Questions in Reading. http://ericae. net/pare/getvn.asp?v=3&n=4

Barton, J. (1996: Journal of Adolesencet & Adult Literary) “Interpreting Charac­ter Emotions for Literature Comprehension.” International Reading Association.

Barton, J., Heiker, P. & Rutkowski, D. (Tanpa tahun). Fostering Effective Classroom Discussions. http://www.mhhe.com/socsceince/english/tc/ discussion.htm 5/1/04

Basnet & Maunfould. (1993). Using Literature in The EFL Classroom. Tersedia pada http://www.thrace.net.gr/bridges/gantidou.html 02/06/05

Beach, R.W. & Marshall, J.D. (1991). Teaching Literature in the Secondary School. London, New York, Tokyo, Toronto : Harcourt Brace Jovanovich, Publishers

Book, S. (Forum, Volume 31 No 3, July-September a993 : “Developing Materials for the Study of Literature.”

Bransford, J.D. Brown, A.L, & Rodney, R (1999). How People Learn : Brain, Mind, Experience, and School. Washington D.C. : National Research Council.

Brooks, J.G. & Brooks, M.G. (1999). The Case for Contructivist Classroom. Alexandria, Virginia USA ; Association for Supervision and Curriculum Development

Brophy, J. (tanpa tahun). Teaching. Educational Practices Series-1

Brynildssen, S. (2002). Character Education through Childre’s Literature. Eric-Digest. di http://www.ericfcility.net/databases/ERIC_Digests/ed469929. html. 24/01/004

Carter R. & Long, M.N. (1996). Teaching Literature. Longman.

Carter, R.& Mc.Rae, J. (1996). Language, Literature, and The Learner. London : Longman.

Collin, N.D.(1993 ). Teaching Critical through Literature. Bloomington, IN ERIC Clearinghouse on Reading, English , and Communication.[ ED363869 ].

Conry C.E. (1977). A Student Teacher’s Experiences Structuring Literature-Based Discussion. National Council of Teachers of English.

Cooper, C.R (eds.) (1985). Researching Response to Literature and the Teaching of Literature: Points of Departure. Norwood, New Jersey : Ablex Publishing Corporation.

Damono, S.D. “Ke Mana Perkembangan Sastra Kita?” dalam Forum Bahasa, 26 November 2002.

Davis, B.G. (1993). Tools for Teaching : Encouraging Student Participation in Discussion. San Fransisco : Jossey-Bass Publishers

Endraswara, S. (2002). Metode Pengajaran Apresiasi Sastra. Jakatta: CV Radhita Buana.

Fish, T & Jenifer P. (1999). Rosenblatt Essay. http:// www.cumber. edu/litcrit web/theory/iser.htm.

Fisher, B. (1991). Joyful Learning. Heineman

Gagnon, G.W. Jr. & Collay, M. Constructivist Learning Design.

Hirata, A. (2007). Laskar Pelangi. Yogyakarta : Bentang

Jewell, T.A. & Pratt. D. (The Reading Teacher, Vol. 52. No.8 May 1999). “Literature Discussions in the Primary Grades: Children’s Thoughtful Discourse about Books and What Teachers can Do to MakeIt Happen” International Reading Association.

Jocye, B. & Weil, M. (2000). Models of Teaching. New Jersey : Prentice-Hall Inc.

Johnston, A. (2000). Objectifying Sensibilities: Reader Response and Its Discontents. http://radicalpedagogy.icaap.org/content/issue2_1/04Johnston.html

Kamil, M.L., Peter B.Mosenthal, P. David Pearson & Rabecca Barr. (2000). Handbook of Reading Research Volume III. London : Lawrence Earlbaum Associates Publisher.

Karni, A.S. (2008). The Phenomenon. Jakarta : Hikmah Mizan

Langer, J. & Close, E. (2000). Improving Literacy Understanding Though Classroom Conversation. http://cela.albany.edu

Langer, J. & Close, E. (2000). Teaching Midles and High School Students to Read and Write Well, Six Features of Effective Instruction. National Research Center on English Learning & Achievment. Tersedia pada http://cela.albany.edu

Langer,J.A. (2000). Literary Understanding and Literature : Instruction Report Series 2.11. http://cela.albany.edu/literary/index.html

Marshall, J.D., Smagorinsky, P. & Smith, M.W. (1995). The Language and Interpretation: Patterns of Discourse in Discussions of Literature. NCTE Research Report No.27

Martino, A. “Responding in Journal” http://www.2cyberhelm.org/persity/collab/ pdf/ journals:pdf

McLaughlin, M., Troustine, J., & Waxler, R.P.(1997). Success Stories: Life Skills Through Literature. Office Of Vocational and Adult Education, U.S. Departement of Education.

Musthafa, B. (2003). “Teori Membaca, Oreintasi Penelitian, dan Praktik Pembelajaran” dalam Revitalisasi Pendidikan Bahasa. A. Chaedar Alwasilah & Hobir Abdullah (penyunting). Bandung : STBA-YAPARI PRESS.

Nelms, B.F. (1988). Literature in the Classroom Readers, Text, and Context. Urbana, Illinois : National Council of Teacher of English.

Nelson, L.R. & Nelson, T.A.(1999) Learning History through Children’s Literature. Bloomington IN ERIC Clearinghouse for Sosial Studies/Sosial Sceince Education [ED435586].

Norton, D.E. (1983). Through the Eyes of Chil:An Introduction to Childrens Literature. Columbus, Toronto, London, Sydney : Charles E. Merril Publishing Company.

Nowlan, B. (2001). Introduction to The Critical Reading of Literature.Tersedia pada http://www.uwec.edu.ranowlan/intr_crit_rdg_lit_081400.htm 10/6/04

Probst, R. Classroom Talk about Literature: Or, the Social Dimension. Tersedia pada http://www.npatterson.net/probst/vtm.html 1/5/04

Probst, R.E. (1987). Transactional Theory in the Teaching of Literature. http:/www.ed.gov/databases/ERIC_Digests/ed284274.html

Probst, R.E. (1990). “Literature as Exploration and the Classroom” dalam Transactions with Literature. Edmund, J.F. & Jmaes, R.S. (penyunting)). Urbana, IL : NCTE.

Probst,R.E. (1988). Response and Analysis : Teaching Literature in Junior and Senior High School. Portsmouth: Heinemann Education Books Inc.

Purves, A.C. (1986). Testing in Literature. http://www.ed.gov/databases/ERIC_ Digests/ed267453.html16/03/0013

Purves, A.C. (1990). Testing Literature: The Current State of Affairs.. http:// www.ed.gov/databases/ERIC_Digests/ed321261.html23 April 200013&

Romano, T. (1998). “Relationships with Literature” (English Education, vol. 30, No, 1, February 1998). National Council of Teacher of English.

Rosenblatt, L.M. (1976). Literature as Exkploration. New York:The Modern Language Association of America

Rosenblatt, L.M. (1978). The Reader, the Text, The Poem. Carbordale, IL : SIUP.

Rosenblatt, L.M. (1988).Writing and Reading : The Transactional Theory. Technical Report N. 13. University of California, Berkeley CA 94720

Rusyana, Y. (2002). Peta Konsep Kesastraan. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Sarumpaet, R.K. (1976). Bacaan Anak-Anak, Suatu Penyelidikan Pendahuluan ke dalam Hakekat, Sifat dan Corak Bacaan Anak-Anak serta Minat Anak pada Bacaannya. Jakarta : Pustaka Jaya

Sarumpaet, R.K. (2002). Sastra dan Anak : Penjajah dan Taklukannya. Makalah disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Nasional XIII, HISKI, di Yogyakarta, 10 September 2002

Sauders, W.M. &Goldenberg, C. (1999). The Effects on Instructional Coversatios and Literature Logs on the Story Comprehension and Thematic Under-standing of English Proficient and Limited English Proficient Student. Ter-sedia pada http://repositories.edli.,org/crede/rschrpts/rro6

Simatupang, T.M. (1995). Pemodelan Sistem. Klaten :Nindita.

Smagorinsky, P. (2000). If Meaning is Constructed, What is It Made of?. http://www. coe.uga.edu/~smago/cattel.pdf.

Smith, P.E. (2001). “Collaboratif Teaching” (ADE Bulletin, 128, Spring 2001:60-65). Tersedia pada http://www.ade.org/ade/bulletin/n128/128060.htm 4/4/2005.

Stiggins, R.J. (1995). Sound Perfomance Assessments in the Guidance Context. ERIC Clearinghouse on Conceling and Student Services Greensboro.

Teeuw, A. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Toeri Sastra. Jakarata : Pustaka Jaya.

Temple, C.& Collins, P.(eds.). (1992). Stories and Readers: New Perspectives on Literature in the Classroom. Norwood : Christopher-Gordon Publishers, Inc.

Tharp, G. R. & Gallimore, R. (1991). The Instructional Coversation: Teaching and Learning in Social Activity. NCRCDLL Research Reports, University of California, Santa Cruz.

Tinzman, M.B. (dkk.). (1990). What Is the Collaborative Classroom? NCREL, Oak Brook. http://www.ncrel.org/sdrs/areas/rpl_esys/collab.htm. 6/2/04

Todorov, T. (1996). Puitika Prosa, Prosa, dan Penelitian-Peneltian Baru atas Cerita. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Terjemahan Apasanti D. dkk.

Vygotsky, L. (1930). Mind and Society. Harvard University Press

Wangsatorntanakhun, J.A. Designing Performance Assessment : Challenges for the Three Story Intellect. Tesedia pada http:// www.geocities. com/Athens/Parthenon/8658 23/12/04

Wiersema, N. (2000). How Does Collaborative Learning Actually in a Classroom and How Do Students react to it? A Brief Reflection. http://www.city. londonmet.ac.uk/deliberations/collab.learning/wiersema/htm 1/11/04

Willis, A.I & Johson, J.L. (2000). “A Horizon of Possibilities”: A Critical Framework for Transforming Multiethnic Literature Instruction. http://www. readingonline.org/aticles/willis/index.html

Anda harus melakukanregistrasi terlebih dahulu untuk menambah komentar

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Login



Testimonials

  • Semoga jaya terus Unswagati
add testimonials

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini34
mod_vvisit_counterKemarin209
mod_vvisit_counterMinggu ini34
mod_vvisit_counterMinggu terakhir1524
mod_vvisit_counterBulan ini961
mod_vvisit_counterBulan terakhir8168
mod_vvisit_counterSemua15812

Online 10

Social Bookmark

Facebook MySpace Twitter RSS Feed 

Gallery Photo

Pilih Berita