SELAMAT DATANG DI WEBSITE UNSWAGATI
Universitas Swadaya Gunung Jati - Kampus 1 : Jl. Pemuda No.32 Telp. (0231) 206558 Fax. (0231) 236742 Cirebon 45132, Kampus 2 : Jl. Perjuangan No. 1 Telp. (0231) 482115, 487249 Cirebon 45132, Kampus 3 : Jl. Terusan Pemuda No. 1A Cirebon 45132

Jurnal

  • MENATA RUANG HATI MENATA RUANG HATI                                                                                                ...
  • MENGGAGAS PENDIDIKAN MASA DEPAN ABDUL ROZAK GURU BESAR UNSWAGATI CIREBON 1. PENDAHULUAN Apa yang terbayang bila...
  • ALIH STATUS UNSWAGATI MENJADI PTN Abdul Rozak Guru Besar Unswagati Cirebon Bagaimana membangun bangsa dengan benar? Jawaban itu...
  • PENDIDIKAN BERBASIS SASTRA Teks sastra membentangkan wilayah pembelajaran yang kaya. Pembaca dapat mempelajari seluruh isi yang...
Share

Abdul Rozak

Guru Besar Unswagati Cirebon

Bagaimana membangun bangsa dengan benar? Jawaban itu merupakan dambaan seluruh pimpinan dan seluruh rakyat. Sejak zaman prakemerdekaan para pendahulu kita selalu mengarahkan mata pikir dan mata hati untuk membangun raga dan jiwanya (ingat syair lagu kebangsaan kita, bangunlah jiwanya, bangunlah badannya). Para tokoh kemerdekaan menyadari benar bahwa kecerdasan merupakan modal utama dalam membangunkan kesadaran kemerdekaan atau apa pun namanya. Bangsa kita terjajah beratus tahun karena ketiadaan pengetahuan yang memadai untuk mengolah rasa, mengolah raga, mengolah jiwa, dan mengolah kekayaan alam yang berlimpah. Pengalaman pahit itu tentu saja tidak ingin kita ulangi. Kita ingin bergerak menuju jalan lulrus menuju kesejahteraan. Oleh karena itu, dapat dipahami pemeirntah sekarang memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan dengan menganggarkan 20 % dari APBN.

Apa yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk merespons kebijakan ini? Kecerdasan para pimpinan daerah semestinya tergambar dalam kebijakan yan berpihak pada rakyat dengan memberikan peluang seluas-luaanya agar masyarakat menjadi cerdas karena peran pemerintah. Kecerdasan rakyat sebenarnya sangat menguntungkan para pimpinan, para pejabat. Ketaatan terhadap aturan, misalnya dapat dimudahkan dengan kemampuan pemahaman yang berlebih ditunjukkan masyarakat. Apa yang terjadi sekarang di daerah, terutama terjadinya kerumitan dalam berbagai peristiwa didorong oleh kekurangcerdasan masyarakat dan juga kekurangmampuan aparat dalam menata informasi. Kemajuan masyarakat yang benar adalah direncanakan. Pemerintah mempunyai pola tataan dan tatanan yang jelas menuju wilayah kesejahteraan.

Kondisi seperti itu disiapkan dan salah satu di antaranya mewujudkan masyarakat yang berpendidikan. Kondisi pendidikan harus dijelmakan dengan seluruh unsur yang berkepedulian secara penuh dan bertanggung jawab. Beberapa kota, termasuk kota Cirebon telah mengumumkan berkeinginan agar kotanya menjadi kota pendidikan. Sampai kini, menurut penulis kota Cirebon belum memperlihatkan arah keterwujudan kota pendidikan. Ada momentum sebenarnya yang kini harus ditangkap oleh pemerintah kota Cirebon, yakni usulan Gubernur Jawa Barat untuk menjadi Unswagati sebagai PTN. Unswagati merespons dengan positif. Langkah-langkah yang dikoordinasikan pimpinan universitas dengan seuluruh sivitas akademika menggerakkan berbagai unsur untuk memperlihatkan kepeduliannya terhadap kepentingan di wilayah Cirebon berdiri sebuah PTN. Para tokoh masyarakat dan agama, alumni, anggota dewan, dan pemda telah memperlihatkan kepeduliannya agar secepatnya kota Cirebon mempunyai PTN.

Mengapa momentum ini harus ditangkap? Beberapa alasan disampaikan di bawah ini. Alasan berseiringan dengan persyaratan kota pendidikan.

PERAN PERGURUAN TINGGI NEGERI

Hiruk pikuk sebuah kota karena adanya warga yang merasa tersedot datang. Ada paksaan yang menyebabkan semua sorot mata dan kaki mengarah pada satu fokus. Dunia yang semula sepi menjadi ramai karena ada dorongan untuk mendukung satu kondisi tertentu yang tidak bisa ditolak keharusannya. Sebuah pembangunan pabrik, sebuah bangunan pertokoan yang mewah membutuhkan sejumlah pekerja yang membutuhkan pula kedayatahanan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Oleh karena itu, akan tumbuh rumah/kamar sewa atau rumah/kamar kos, akan muncul rombongan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman, akan muncul orang yang menawarkan jasanya dalam bidang pencucian, pemberesan rumah, kredit motor, peralatan rumah tangga, dan selanjutnya. Hidup ini selalu berkaitan erat, saling membutuhkan, tidak ada yang mandiri. Kebutuhan atas kesertaan orang lain itulah rangkaian itu terjadi dengan sendirinya. Tidak ada yang menggerakkan. Mereka akan datang dengan sendirinya. Semua itu terjadi karena direncanakan, didesain “penguasa” kota/kabupaten.

Tugas kepala daerah sebenarnya yang pokok adalah bagaimana merencanakan kebahagian bagi masyarakat, bagaimana masyarakat merasakan adanya sentuhannya sehingga merasa diarahkan. Gubernur Jawa Barat sekarang sedang membukan peluang kepada masyarakat Cirebon khususnya dan pada masyarakat Jawa Barat pada umumnya.

Beliau sangat berkeinginan menmgembangkan Cirebon sebagai salah satu simpul titik pengembangan wilayah barat Jawa Barat. Jika di Wilayah Cirebon ada PTN, pengembangan akan berjalan dengan cepat dan secepat-cepatnya.

Masyarakat akan berdatangan tanpa diminta dari berbagai kota dan kemungkinan lintas pulau. Bagaiamana perkembangan Jatinangor sejak adanya UNPAD? Pertumbuhan ekonomi berjalan dengan cepat, terutama perekonomian rakyat menggeliat. Warung fotokopi, warung makanan, warung alat tulis, kamar kos/sewa dan selajutnya tumbuh sebagai bagian pendukung untuk keterwujudan sebuah institusi berdiri menjalankan rodanya. Tanpa dukungan masyarakat sekitar tidak akan berjalan semestinya. Pada akhirnya kota Cirebon akan berubah dengan sendirinya.

Banyak warga pendatang yang membutuhkan hunian, membutuhkan informasi, membutuhkan fasilitas. Apakah kita akan diam? Apakah kita tidak akan menyambut para tamu dengan seyum kebahagiaan dana fasilitas yang memadai?

 

Kita harus mengingat bahwa yang datang adalah sebagain besar orang-orang yang mempelihatkan keinginannya mencari ilmu. Perilaku dan perikatanya akan mengarah pada bagaimana ia memerlukan berbagai hal untuk memudahkan pencarian ilmu di sini, di Universitas Negeri Sunan Gunung Jati Cirebon (Insya Allah nama yang disetujui oleh para tokoh masyarakat dan tokoh agama sebaagi pengganti nama Unswagati). Di samping itu, akan banyak warga yang berdatangan untuk mengais rezeki. Mereka akan menawarkan berdasarkan pengalaman, berdasarkan kemampuannya, berdasarkan kompetensinya. Jika kita tidak menyiapkan segalanya dengan baik, akan tergilas. Kita akan jadi penonton.

 

Apa pun alasannya sebuah perguruan tinggi negeri akan membangkitkan berbagai unsur lain yang harus mendukungnya. Perencanaan pemerintah adalah bagaimana mengatur berbagai hal termasuk infrastruktur dapat memberikan layanana kepada masyarakat agar mereka merasa disambut sebagai warga, agar mereka merasa dimanusiakan. Kewajiban pemerintah kota adalah memnyusun sistem yang dapat memantau aktivitas masyarakatnya menuju kesejahteraan. Di samping itu, keinginan pemerintah kota, mudah-mudahan ini keinginan kuat, bahwa sumber daya manusia yang cerdas dapat terwujud seiring dengan peningkatan kualitas lulusan PTN. Keuntungan bagi pemerintah kota dapat memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas. Di samping itu berbagai kemungkinan percepatan dapat terjadi dalam berbagai aspek.

 

Masyarakat akan cepat disadarkan untuk mengikuti pergerakan karena arus luar yang masuk. Warga yang berasal dari berbagai daerah akan mempengaruhi kondisi Cirebon dalam berbagai unsur kehidupan. Faktor ekonomi akan bergerak seiring dengan kebutuhan masyarakat kampus.

Percepatan layanan dengan sediaan kebutuhan berupa benda atau bukan benda akan meningkat. Kini begantung kepada pemerintah kota Cirebon. Bagaimana dengan pemerintah kota Cirebon? Apakah sudah siap kotanya diserbu oleh warga yang berkeinginan menuntut ilmu di Universitas Swadaya/Negeri (Sunan) Gunung Jati? Tata langkah seharusnya telah terlihat dari sekarang. Apa saja yang harus diatur sebenarnya?

FASILITAS BERNUANSA EDUKATIF

Pemerintah kota telah menyatakan kesediaannya mendukung penegerian Unswagati. Anggaran telah ditetapkan dengan persetujuan dewan, bahwa anggaran itu akan digunakan untuk mendukung infrastrktur, daya dukung agar diperoleh kemudahan akses ke kampus yang baru. Di samping itu, sebenarnya yang paling penting adalah pengkondisian berbagai unsur bernuansa edukatif. Sampai kini kita sulit menemukan perpustakaan yang representatif. Perpustakaan yang dapat dibanggakan masyarakata Cirebon karena fasilitasnya yang istimewa; koleksi bukunya yang beragam (berkualitas dan kuantitasnya mencukupi), berbasis komputer, berjaringan nasional dan internasional, buka 24 jam. Alur lalu lintas kota Cirebon kurang menggambarkan edukatif. Kita hampir tidak mempunyai aturan untuk pengemudi becak. Alur becak dibuka seluas-luasnya. Mereka dibiarkan untuk melanggar. Jalan protokol yang semestinya bersih becak tidak terjadi. Hanya bertahan beberapa lamanya kontrol besih becak, setelah itu kembali ke awal.

Tempat bermain edukatif belum disediakan. Masyarakat perlu beristirahat di tempat yang bersih, nyaman untuk berinteaksi dengan sesama pada saat istirahat. Taman yang dikelilingi pohon sejuk akan juga menyejukan hati masyarakat. Berkerumun dalam kebersatuan membincangkan kebijakan walikota yang merakyat. Mereka berceloteh berbagai perilaku pejabat kota yang bernuansa religi dan melindungi rakyatnya. Mereka menatap anak-anak yang sedang berolahraga ringan di taman rindang.

Pedagang di kiri kanan taman tertata bersih dan menantang selera. Senda gurau tada kicau anak-anak yang berbahagia.

Itulah sebenarnya yang harus disiapkan pemerintah. Sebuah tempat bertemu untuk bertemanan. Taman itu hanya sebagai perwujudan dari kebijakan pemerintah yang berpendidikan yang mendidik masyarakatnya dengan persuasif dan anak-anak berpendidikan di tempat pendidikan yang berkualitas karena dorongan yang kuat dari pemerintah dalam hal menciptakan masyarakat edukatif. Bagaimana pemerintah menata pedagang kaki lima, tukang becak, pengguna jalan (mobil, motor, pejalan kaki) adalah gambaran bagaimana kualitas kepemimpinan di mata rakyatnya. Pembiaran yang selama ini terlihat menunjukkan kekurangpedulian terhadap keinginan pemerintah untuk memberikan keadilan bagi anggota masyarakat. Semua berjalan seadanya dan begitumemang biasanya. Sentuhan apa pun sebanarnya kan terasa jika ada. Apa yang tersaksikan sampai kini kota kita berjalan seperti apa adanya. Mereka tidak perlu diusir, tetapi diatur menjadi rapi. Dengan cara persuasif saya yakin mereka akan memahami. Cara yang benar adalah bagaimana aturan yang diterapkan pemerintah itu dapat memanusiakan mereka. Jika pemerintah kesulitan, mengapa tidak bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk menangani ini. Insya Allah kita siap membantu, menyusun cara agar semuanya tidak ada yang dirugikan dan disakitkan.

Pembiaran ini akan merugikan jika kita berkeinginan menerima tamu yang akan berdatangan dari luar Cirebon. Bahkan dapat terjadi mahasiswa akan berdatangan dari luar Jawa. Fakta bahwa Fakultas Kedokteran-Unswagai Cirebon mempunyai mahasiswa yang betul-betul bernuansa Nusantara (ada yang datang dari NTT, Papua, Bogor, Sulawesi, dst.). Pada saat Unswagati menjadi universitas negeri akan membuka peluang masuknya mahasiswa luar kota ke fakultas nonkedokteran. Sudahkan kita siap menyiapkan anak-anak kita, lulusan SMA wilayah Cirebon untuk berkompetisi? Keseiringan antara persiapan menerima tamu dan menyiapkan anak-anak kita menjadi bagian tidak terpisahkan dari perubahan yang bakan terjadi. Sangat masuk akan bila orang tua berkeinginan mencerdaskan anak-anaknya di kotanya sendiri. Mengapa harus mengirim anak-anaknya ke luar kota, jika di Cirebon ada PTN yang berkualitas.

Kota Cirebon, saya pikir sebentar lagi akan ramai. Niat pemerintah membangun bandara internasional di Kertajati, jalur kereta apai tercepat Bandung_Cirebon, pembangunan tol Cikampek-Palimanan dan Cisamdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) seharusnya membangunkan kesadaran kita semua untuk meresponsnya. Jika segalanya seperti biasanya kita tidak akan memperoleh apa-apa. Kita hanya akan jadi penonton. Tanggung jawab kita mempersiapkan masyarakat dengan membekali unsur pendidikan yang siap merespons perubahan. Perubahan menuntut kita mengantisipasinya, bukan menunggu. Alih status Unswagati menjadi negeri, semoga menjadi momentum perubahan berarti bagi seluruh masyarakat Cirebon khususnya dan masyarakat Jawa Barat umumnya.

Dimuat pada harian Kabar Cirebon, 24 April 2010

Anda harus melakukanregistrasi terlebih dahulu untuk menambah komentar

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Login



Testimonials

  • Semoga jaya terus Unswagati
add testimonials

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini32
mod_vvisit_counterKemarin209
mod_vvisit_counterMinggu ini32
mod_vvisit_counterMinggu terakhir1524
mod_vvisit_counterBulan ini959
mod_vvisit_counterBulan terakhir8168
mod_vvisit_counterSemua15810

Online 11

Social Bookmark

Facebook MySpace Twitter RSS Feed 

Gallery Photo

Pilih Berita